RUNNING TEXT



widgets

Rabu, 26 Februari 2014

Simulasi Pelaksanaan Pemilu 2014 Sukses Dilaksanakan Polres Kulon Progo


KULONPROGO  - Massa yang berusaha mengacaukan Pemilu 2014 bentrok dengan aparat keamanan di seputaran Alun-alun Wates, Selasa (25/02/2014). Namun bentrok berhasil diredakan personel Brimob Polda DIY dan Satuan Sabhara Polres Kulonprogo.

Dalam meredakan bentrok massa, Polda DIY mengerahkan tim dari Brimob, Gegana, juga water canon, anjing pelacak, serta lainnya. Bahkan tim Gegana berhasil mengamankan 'bom' dari suatu tempat dan meledakan di tempat yang aman.
Bentrok tersebut hanya terjadi dalam simulasi ‘Operasi Mantap Brata 2014’ Polres Kulonprogo yang digelar di seputar Alun-alun Wates, Selasa (25/02/2014).  Untuk kegiatan simulasi, seputaran Alun-alun Wates ditutup dari mulai pukul 06.00 WIB hingga 12.30 WIB.
Dalam simulasi tidak hanya pengamanan dalam menghadapi pengacau pemilu, namun juga termasuk pengamanan logistik pemilu dan pendistribusiannya, termasuk juga di TPS pada hari H pelaksanaan pemilu. Simulasi yang mengerahkan 1.200 personel Polres Kulonprogo dan Polda DIY ini dihadiri Waka Polda DIY dan jajarannya, Kapolres Kulonprogo AKBP J Setiawan, Muspida Plus, Wabup Drs H Sutedjo, Panwas dan KPU se-DIY, serta perwakilan partai politik.

Dikatakan Kapolres Kulonprogo AKBP J Setiawan Widjanarko, peserta yang dikerahkan untuk simulasi sebanyak 1.200 personnel yang terdiri 900 orang personel Polres Kulonprogo dan 300 personel Brimob maupun Sabhara. Sedangkan jumlah pengamanan dari Polres untuk Pemilu 2014 sebanyak 2/3 atau 662 orang yang disebar pada semua TPS.
"Untuk TPS di Kulonprogo yang rawan dan ada keramaian pada pemilu lalu sebanyak 3 TPS, yakni di 1 TPS Galur dan 2 TPS di Panjatan," kata J Setiawan.
Ditambahkan Direktur Sabhara Polda DIY yang sekaligus sebagai Direktur Pelatihan PAM Pemilu 2014 Kombes Pol Yulza Sulaiman SIK menyatakan latihan ini untuk membiasakan anggota Polri agar nantinya ketika di lapangan untuk mengamankan tahapan pemilu 2014, biar lebih profesional. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan terus menerus, bukan berarti latihan hari ini sudah cukup, tetapi harus melakukan latihan.
"Saat memakai seragam, dalam melakukan pengamanan juga harus dilengkapi tongkat polisi dan borgol baik perorangan maupun berdua. Namun tidak dilengkapi dengan senjata api untuk mewujudkan pengamanan yang humanis. Hal itu merupakan perlengkapan polisi yang melekat pada petugas dan harus dikuasai penggunaanya," ujarnya Yulza.
Sementara Ketua KPU Kulonprogo Muh Isnaeni menyatakan terkaitan dengan keamanan pemilu, Kepolisian mempunyai standar yang jelas, cepat untuk mengamankan pemilu dan mengantisipasi seandainya ada hal-hal yang tidak diinginkan. "Saya tidak berharap akan ada hal-hal yang tidak diinginkan. Saya pikir pengamanan yang ditunjukkan kepolisian sudah cukup kuat untuk pengamanan,"katanya sembari menyatakan di Kulonprogo rasa untuk berdemokrasi lebih tinggi, sehingga ia yakin tidak akan terjadi hal-hal yang anarkhis.

krjogja.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar